Home / Experiences  / Adventure Tours  / Myanmar: Negeri Tertutup dengan Keindahan yang Perlahan Tersingkap

Myanmar: Negeri Tertutup dengan Keindahan yang Perlahan Tersingkap

featured

Hampir lebih dari 50 tahun di bawah pemerintahan Junta Militer, Myanmar merupakan negara yang tertutup. Sensor di sana sini terhadap media yang dilakukan oleh pemerintahnya membuat informasi dari luar ke dalam sulit masuk begitu pun sebaliknya menjadikan Myanmar seperti negara pariah, terasing dari dunia di sekelilingnya. Tapi sejak tahun 2011, Myanmar mulai bergerak ke arah demokrasi, dan di tahun 2016 Myanmar memiliki presiden pertama dari rakyat sipil – pertanda positif bahwa negara ini perlahan-lahan mulai terbuka. Hal ini tentunya kabar baik untuk para traveller yang ingin menjelajahi negara yang dulunya tertutup namun memiliki keindahan yang memukau. Tapi jangan harap menemukan Starbucks di sini – setidaknya dalam waktu dekat ini.

 

Kuil-Kuil Budha yang Cantik

Keindahan Negara Myanmar

Kerajaan Bagan yang pernah berdiri di Myanmar sangat aktif membangun kuil-kuil Budha dan stupa-stupa yang sangat menawan. Coba saja ke mengunjungi padang Bagan dengan 4000 stupanya. Shwedagon Paya, stupa emas dengan arsitektur mengagumkan dan merupakan tempat suci umat Budha. Atau stupa Batu Emas di Gunung Kyaiktio, yang berdiri dengan keseimbangan sempurna di atas sebuah batu besar di pinggir jurang.

 

Alam yang Memukau

konten-2

Selain dari arsitektur kuil-kuil Budha yang menarik, Myanmar memiliki pemandangan alam yang menarik dan dapat dinikmati tanpa harus berdesak-desakan. Nikmati perjalanan menyusuri sungai Irawady dengan menaiki perahu uap, atau menikmati keindahan pantai di Teluk Bengal. Treking di pegunungan-pegunungan Myanmar menikmati udara sejuk atau menjelajahi desa-desa di mana kita dapat berinteraksi dengan penduduk yang ramah dan ingin tahu.

 

Wajah Asia Tenggara pada Masa Lalu

konten-3

Akibat pemerintahannya yang tertutup, pengaruh Barat tidak terlalu kentara di bidang fesyen dan lifestyle masyarakat Myanmar. Artinya, tidak ada Starbucks. Tidak ada Uber. Tidak ada pakaian yang hip.

Tapi itu sebenarnya kabar baik. Kita dapat melihat budaya Asia Tenggara dari masa lalu – yang tentunya cocok untuk difoto. Di sini baik pria dan wanitanya masih mengenakan pakaian tradisional, berpergian menggunakan becak tarik, rumah-rumah tradisional, dan nenek-nenek yang mengunyah sirih.

Share This:

marco.anthony@smailingtour.co.id

Review overview
NO COMMENTS

POST A COMMENT